Especifismo: Membangun Anarkisme Level Politik dan Level Sosial

social_anarchism_and_organisation_farj_en

oleh Geranium Hitam*

Judul                 : Social Anarchism and Organization
Penulis             : Federação Anarquista do Rio de Janeiro – FARJ (Brazil)
Penerjemah   : Jonathan Payn (Bahasa Inggris)
Penerbit          : Zabalaza Books
Tahun Terbit : 2012
Jml Halaman  : 88

Di tengah gairah akan ketertarikan masyarakat Indonesia terhadap literasi-literasi progresif, khususnya anarkisme, usaha-usaha penerjemahan pun mengalami pertumbuhan cukup signifikan. Tentunya hal ini dibarengi dengan rasa dahaga pada bacaan-bacaan yang mencerahkan, terutama anarkisme yang memiliki sejarah panjang literasi lebih dari 2 abad lamanya. Namun tentunya literasi anarkisme pun terus menerus mengalami perkembangan hingga detik ini, sumbangan-sumbangan literasi dari berbagai tendensi Anarkisme terus mengalir deras seperti aliran air tanpa ujung. Seperti dokumen Anarkisme Sosial dan Organisasi (Social Anarchism and Organization) yang merupakan sumbangan literasi dari tanah Amerika Latin.

Dokumen ini, merupakan hasil dari pengalaman kegagalan dan keberhasilan dari praktek Federasi Anarkis Rio de Janeiro (Federação Anarquista do Rio de Janeiro – FARJ) sejak pembentukan organisasi tersebut di Brasil pada tahun 2003, lalu disetujui oleh kongres pertama FARJ pada tahun 2008. Sedangkan dokumen yang penulis bahas dalam tulisan ini merupakan terjemahan dari Jonathan Payn (ZACF-Afrika Selatan) yang terbit pada tahun 2012[1]. Dokumen ini berusaha memetakan konsep teori dari tradisi anarkisme terorganisir yang fokus pada perjuangan kelas.

Menurut penerjemahnya sendiri, dokumen ini merupakan “elaborasi paling komprehensif” tentang tradisi anarkisme Especifista. Especifista sendiri merupakan tradisi anarkisme yang lahir dan berkembang di Amerika Latin sebagai hasil dan kebutuhan para militan anarkis dalam perjuangan mereka selama setengah abad terakhir khususnya peran para militan dalam Federasi Anarkis Uruguay (FAU). Kebutuhan ini hadir akibat gerakan anarkis terasingkan dari gerakan buruh pada umumnya dalam periode 1920an dan 1930an, sehingga hilangnya apa yang mereka sebut dengan “vektor sosial anarkisme”[2]. Dalam dokumennya sendiri, FARJ merasa tidak hanya ada peran FAU saja, konsep Especifista sendiri juga diilhami oleh peran Bakunin bersama kelompok Aliansi Demokrasi Sosial dalam Internasional; kelompok-kelompok seperti Alianca Anarquista, Partido Comunista (yang beraliran libertarian), Magonistas selama Revolusi Meksiko, fase radikal dari Partido Liberal Mexicano (PLM); juga kelompok Federacion Anarquista Iberica dan Friends of Durruti selama Revolusi Spanyol; para penulis dokumen Platformis dalam kelompok Anarkis Rusia di luar negeri (Group of Russian Anarchists Abroad); dan orang-orang pendukung Errico Malatesta dalam konsepnya tentang “partai anarkis”.

Tentu saja dokumen ini bukanlah semacam “kitab suci” para Especifista. Dalam pengantar edisi Bahasa Perancis di tahun 2013[3], dokumen Social Anarchism and Organization bukanlah “dokumen yang telah final”, melainkan “bagian dari konteks yang lebih besar”. Setelah mengalami pengalaman praktek, juga perdebatan internal dan pengalaman komunikasi dengan kelompok anarkisme pro-organisasi lain, khususnya di Brasil, beberapa konsep dalam dokumen ini mengalami perkembangan cukup signifikan (ingat, dokumen ini pertama kali terbit pada tahun 2008). Perkembangan ini antara lain tentang tiga aspek berikut: konsep kelas sosial, gagasan tentang “kekuatan rakyat” (Popular Poder), dan proses pembangunan sel organisasi.

Terlepas dari perkembangan tersebut, konsep Especifista terkenal dengan konsep “dualisme organisasi” yaitu, “especifismo” dan “penyisipan sosial” (insersi) yang menekankan adanya level politik dalam pengembangan teori dan strategi dengan dibentuknya organisasi yang spesifik dan level sosial dengan keterlibatan anarkis dalam perjuangan kelas. Nah, dua konsep tersebut yang menjadi fokus dalam tulisan ini.

Level Sosial: Kerja Sosial dan Penyisipan Sosial (Insersi)

FARJ menganggap bahwa level sosial merupakan hal pokok dimana gerakan sosial dikembangkan dan dimana kaum anarkis berusaha membangun dan meningkatkan kekuatan rakyat terorganisir. Kita sebagai anarkis tentu tidak mampu mendorong sebuah revolusi sosial dengan seorang diri. Tentunya revolusi sosial untuk menghapus tatanan lama (kapitalisme dan negara) dan membangun dunia baru (sosialisme libertarian) haruslah bekerjasama dengan berbagai pihak. Inilah yang menjadi dasar dari gagasan dari para especifista untuk level sosial anarkisme, yaitu terlibat langsung dalam perjuangan kelas yang dieksploitasi. FARJ menyebut keterlibatan dan interaksi antara anarkis dengan kelas yang dieksploitasi dalam membangun gerakan sosial dengan istilah: kerja sosial (social work).

Tentunya especifista sebagai anarkis menginginkan sebuah gerakan sosial yang bersifat anarkis, namun mereka menolak untuk berusaha mengideologisasi gerakan sosial. Ini disebabkan karena yang berhak untuk berusaha merubah nasib rakyat adalah rakyat itu sendiri, bukan segelintir orang yang berusaha “memimpin” rakyat. Namun especifista sendiri sebagai organisasi anarkis memposisikan diri di antara gerakan sosial dengan posisi setara, tidak di depan, artinya tidak berusaha memimpin dengan sifat otoriter gerakan sosial; maupun tidak belakang, artinya bersikap kritis pada gerakan sosial dan tentunya berusaha memenangkan gagasan anarkis dalam gerakan sosial.

Gerakan sosial harus dibangun sesuai kebutuhan sosial itu sendiri, persoalan umum dan menuju hasil yang konkret. Artinya, tuntutan dari gerakan sosial ini harus diawali dengan tuntutan untuk memperbaiki kondisi kelas yang dieksploitasi. Misalnya kasus perampasan ruang hidup yang akhir-akhir ini sedang marak di Indonesia. Maka gerakan sosial harus dibangun untuk melawan perampasan tersebut dan memenangkannya. Dengan begini, maka akan banyak ketertarikan dari masyarakat terdampak untuk mendukung perjuangan seputar isu perampasan ruang hidup dan juga mendukung orang-orang yang diuntungkan ketika perjuangan ini dimenangkan. Inilah salah satu alasan mengapa FARJ menolak untuk membangun gerakan sosial sesuai ideologi atau mengidelogisasi sebuah gerakan sosial.

Gerakan sosial merupakan titik awal dari tranformasi sosial menuju sosialisme libertarian. Urutannya adalah gerakan sosial >> organisasi rakyat (populer poder) >> revolusi sosial >> sosialisme libertarian. Namun memenuhi urutan tersebut gerakan sosial harus perlu ditanamkan karakteristik tertentu, yaitu: (1) memiliki kekuatan (daya tawar tinggi); (2) bersifat perjuangan kelas, artinya perjuangan secara vertikal; (3) memiliki independensi dari pihak-pihak lain (otonom); (3) memakai metode aksi langsung; (4) pengambilan keputusan melalui metode demokrasi langsung; dan (5) memiliki perspektif revolusioner. FARJ menyebut kerja penanaman karakterisitik gerakan sosial ini dengan istilah: penyisipan sosial (insersi).

Untuk membangun organisasi rakyat perlu dibangun jaringan (konvergensi) antar gerakan sosial dan semakin dikembangkannya organisasi rakyat ini maka potensi untuk mengalahkan kapitalisme dan Negara, juga membangun sosialisme libertarian melalui revolusi sosial cukup masuk akal.

Namun FARJ melihat adanya kelemahan tertentu dari gerakan sosial sehingga menghambat proses transformasi sosial. Pertama, adanya berbagai kekuatan politik yang berinteraksi dengan gerakan sosial, dan yang terakhir adalah sifat gerakan sosial itu sendiri yang cenderung pragmatis. Kekuatan politik yang berinteraksi dengan gerakan sosial cukup banyak, khususnya kekuatan politik otoriter yang seringkali memiliki kepentingan yang berbeda dengan kepentingan gerakan sosial itu sendiri. Misalnya kita ambil contoh perjuangan Petani Kendeng yang awalnya memiliki beberapa karakteristik yang disebut di atas (aksi langsung dengan memblokade jalan), namun dalam dinamikanya ada perubahan karakteristik yang sangat jelas, sehingga kemudian menjadi persoalan siapa yang diuntungkan dalam perjuangan para petani ini? Lalu gerakan sosial pada awalnya berangkat dari tuntutan jangka pendek dari kelas yang dieksploitasi, sehingga ada resiko besar gerakan sosial pada akhirnya menjadi reformis, mengalami demobilisasi dan menuntut kemenangan yang sederhana sehingga seringkali berjarak dari perjuangan revolusioner.

Maka di satu sisi, level sosial menjadi protagonis utama dalam transformasi sosial namun di sisi lain ada keterbatasan serius yang untuk mewujudkannya menjadi protagonis utama. Persoalan keterbatasan inilah yang coba dijawab pada tugas anarkis di level politik.

Level Politik: Organisasi Anarkis Spesifik (Especifismo)

Berbeda dengan level sosial, level politik adalah level ideologis atau level anarkis. Di level politik inilah dimana organisasi anarkis especifismo berkembang dan mampu mewujudkan proses transformasi sosial, namun tentunya perkembangan ini haruslah dengan interaksi terus menerus dengan level sosial. Maka ada hubungan timbal-balik diantara keduanya.

Di level politik, para anarkis merumuskan dan mendiskusikan teori, taktik serta strategi dalam sebuah organisasi spesifik secara demokratis untuk menghadapi persoalan-persoalan yang berada dalam gerakan sosial. Hal ini dilakukan agar level sosial tempat para anarkis melakukan aktivitas kerja sosial bisa menghubungkan tuntutan jangka pendek gerakan sosial dengan sebuah proyek revolusioner jangka panjang. Maka organisasi anarkis spesifik perlu menjabarkan membantu dalam penjabaran dan produksi teori dan analisis situasi yang diperlukan, sehingga bila terjadi kekalahan, anarkis tidak kehilangan kontuinitas ideologi dan akumulasi perjuangan. Jadi peran organisasi spesifik di saat gerakan sosial sedang bergelora adalah untuk mendorongnya lebih jauh, sedangkan ketika gerakan sosial sedang surut maka perannya adalah “menjaga api tetap menyala” atau menunggu dan mempersiapkan kesempatan baru untuk bertindak.

Perlunya organisasi spesifik (especifismo) di dalam level politik untuk mengumpulkan para anarkis agar siap melawan pengaruh kekuatan otoriter di dalam melakukan aktivitas kerja sosial dalam gerakan sosial. Tentunya dengan adanya organisasi maka peran anarkis dalam kerja sosial bisa menjadi kekuatan sendiri, hal ini terutama berpengaruh dalam aktivitas penyisipan sosial.

Especifismo sendiri menganjurkan kesatuan teori dan ideologi; juga kesatuan taktik dan strategi. Tentunya semua garis politik (teori dan idelogi; maupun taktik dan staretegi) dirumuskan dan didiskusikan secara bersama-sama dan demokratis; dan semua orang di dalam organisasi wajib untuk melaksanakannya sesuai kesepakatan bersama.

Tentunya banyak persoalan-persoalan lain yang belum terjawab dalam tulisan ini, terutama soal level politik dan level sosial yang penjabarannya sangat panjang. Penulis menganggap tulisan ini sebagai pengantar untuk mengenalkan tradisi arus especifismo kepada para anarkis di Indonesia.[]

*penulis aktif di Persaudaraan Pekerja Regional – Jombang

Catatan:

[1] Social Anarchism and Organization | Zabalaza Books https://zabalazabooks.net/2012/03/20/social-anarchism-and-organisation/

[2] Anarquismo especifista | Alasbaricadas http://www.alasbarricadas.org/noticias/?q=node/6849

[3] Kolom komentar dalam halaman Social Anarchism and Organization – FARJ | Libcom https://libcom.org/library/social-anarchism-organisation

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s